Sudah lebih dari hampir 4 tahun sejak terakhir saya mengisi di blog ini . Mungkin banyak yang sudah berpikir apakah saya sudah tidak ingin berusaha lagi atau mungkin saya sudah menjadi sukses sehingga tidak sempat lagi mengisi blog ini. Jawabannya bukan keduanya. Saya tidak berhenti berharap dan berusaha untuk menjadi enterpreneur dan saya juga masih belum mencapai kesuksesan sebagai enterpreneur.
Saya akan bercerita apa sebenarnya yang terjadi, bagaimana pengalaman saya dan pengalaman karir saya. Selama ini saya juga masih merahasiakan identitas diri saya, namun dalam kesempatan ini saya akan buka seluruh identitas dan perjalanan hidup saya.
Siapakah Saya?
Saya bernama Rizky Mahardhika, saya dilahirkan di surabaya sekitar 34 Tahun yang lalu. Saya bersyukur dilahirkan dalam keluarga yang berkecukupan. Ayah saya adalah seorang pekerja swasta yang boleh dibilang sukses berkarir diawali dari beliau seorang sales di perusahaan yang bergerak dalam bidang telekomunikasi dan hingga akhir masa tugasnya beliau bisa mencapai posisi direktur di perusahaan tersebut. Ibu saya juga adalah seorang pekerja keras yang berkerja di suatu instansi pemerintah yang mengabdikan dirinya hingga masa kerjanya, beliaupun cukup dibilang sukses dalam berkarir hingga di akhir masa jabatannya mencapai suatu kepala seksi.
Masa Sekolah
Saya akui saya sendiri bukanlah anak yang cemerlang yang selalu menjadi juara kelas...
Selama masa sekolah dasar saya tidak pernah menjadi juara kelas namun saya selalu aktif dalam berbagai kegiatan, bahkan saya selalu dipilih menjadi ketua kelas, ketua kelompok dan juga ketua regu dalam kegiatan pramuka. saya aktif dalam berbagai kegiatan esktra kurikuler sampai berbagai les bahasa inggris ataupun kegiatan karate.
Sewaktu SMP saya masuk di sekolah paling favorit di surabaya, saya sekolah di SMPN 1 surabaya.
Sewaktu SMP saya sangat biasa saja, nilai juga bukannya yang bagus-bagus sekali terutama di bidang fisika saya sangat jauh tertinggal. Dan karena sekolah ini adalah SMP paling favorit tentu saja banyak sekali anak-anak dengan prestasi yang luar biasa, karenanya saya hanya bagaikan bayangan saja di sekolah ini.
Setelah lulus dari SMP saya memilih untuk menjauh dari sekolah favorit, dengan maksud saya ingin memperluas pergaulan dan pandangan saya. Akhirnya saya masuk di SMAN yang letaknya cukup jauh dari rumah saya. Sewaktu di SMA prestasi pendidikan saya juga biasa-biasa saja. Namun disini saya bergaul dari kumpulan anak-anak pendiam sampai anak-anak yang paling bandel. Namun pada akhir di SMA ini yang paling berkesan, pada waktu itu saya dengan grup yang paling dekat berempat selalu bertaruh setiap kali ujian, siapa yang nilainya paling rendah harus mentraktir semuanya makan.
Kegagalan Pertama
Setelah lulus SMA saya coba ikut UMPTN dan hasilnya....hehehe....tidak masuk ke perguruan tinggi manapun. Waktu melihat pengumuman hasil ujian itu saya dan teman-teman berkumpul di rumah saya dengan kelompok anak-anak ekstra kulikuler softball. Pada waktu itu kita berkumpul kurang lebih berdelapan dan sampai malam hari berkumpul dan membeli koran dini hari untuk melihat hasil UMPTN tersebut. Satu per satu teman-teman saya mulai menemukan nomer peserta mereka lolos UMPTN tersebut dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri Pilihan mereka. Hingga pada akhirnya dari semua yang berkumpul di rumah saya hanya saya saja yang tidak lulus UMPTN......wah...benar- benar down sekali waktu itu...
Karena saya tidak lulus UMPTN akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Swasta dan karena sebenarnya nilai ebtanas SMA saya cukup bagus saya bisa masuk PTS itu tanpa tes lagi...terus terang saja saya sudah gak ada semangat buat ikut tes masuk dan sebagainya....saya sudah down.
Setelah masuk di PTS dan selesai orientas akhirnya kehidupan sebagai mahasiswa dimulai, waktu itu saya mengambil jurusan Arsitek. Karena saya di PTS itu banyak kenalan mahasiswa senior jadi saya sering kumpul dengan mereka. bahkan boleh dibilang saya lebih dekat dengan mahasiswa senior dibanding dengan mahasiswa seangkatan saya.
Keajaiban Pertama Terjadi
Sambil saya melakukan kegiatan saya sebagai seorang mahasiswa di PTS, ternyata ada teman satu gang di komplek rumah saya, namanya Andos yang kebetulan juga teman satu SMP saya mengajak saya untuk menemani dia mendaftarkan diri ikut beasiswa sekolah ke jepang di konsulat jepang. Informasi beasiswa ini tentu saja saya tidak mengetahuinya sama sekali, namun informasi beasiswa ini sangat umum di sekolah favorit seperti SMA teman saya tersebut.
Karena ajakan teman saya itulah akhirnya kita berdua berangkat ke konsulat dan bertanya-tanya soal beasiswa tersebut dan meminta formulir pendaftaraannya. Setelah mendapatkan formulir pendaftaraan tersebut akhirnya kami pulang. Kemudian saya isi formulir pendaftaraan tersebut dan saya kembalikan lagi ke konsulat jepang di surabaya. Selang sekitar sebulan kemudian saya mendapat surat panggilan untuk mengikuti ujian beasiswa tersebut. Dikarenakan Nilai Ijazah saya tidak terlalu besar saya tidak bisa ikut program Sarjana dan hanya bisa mengikuti untuk program D-2, namun saya pikir tidak apalah yang penting saya coba saja. Pada waktu itu yang ikut ujian ada sekitar 82 Orang dan ujiannya semua dalam bahasa Inggris. Saya sendiri tidak tahu apakah bisa lolos atau tidak, tapi satu hal yang pasti saat itu saya hanya bisa mencoba dan berdoa meminta kepada tuhan agar saya bisa lolos. Dalam doa tersebut yang saya pikirkan adalah bila saya bisa mendapatkan beasiswa maka saya bisa mengurangi beban orang tua saya sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya kuliah saya.
Selang sekitar 1 bulan saya sangat kaget karena saya mendapatkan panggilan lagi untuk ikut ujian wawancara kali ini ujian tersebut dilakukan di Kedutaan Jepang di Jakarta. Akhirnya saya pergi untuk ikut ujian wawancara tersebut. Pada saat itu kalau tidak salah ada sekitar 30 atau 60 orang peserta, saya tidak ingat persisnya. Namun yang pasti saingannya cukup luar biasa ada anak yang dari ITB, UGM dan berbagai Universitas Negri di Indonesia. Saya berpikir wah bakal susah untuk lolos karena ya...saya kan anak yang biasa aja..bukan pintar pintar banget gitu...
Pada bulan Desember 2006, saya menerima telpon dari Kedutaan Jepang dari bagian Pendidikan, waktu itu saya ingat betul yang berbicara dengan saya adalah Ibu Lies dan beliau berkata kepada saya apakah saya mau hadiah tahun baru? Saya juga bingung...maksudnya apa ya? Akhirnya beliau menyampaikan bahwa saya lolos ujian dan bisa mendapatkan beasiswa ke jepang.....WOW luar biasa sekali waktu itu senangnya ...siapa yang menyangka saya yang biasa ini bisa mendapatkan beasiswa untuk sekolah ke jepang...padahal jujur saja nilai rapor saya selama dari SMA saja juga ada beberapa yang nilainya pas-pasan saja...
Baiklah para kawan semuanya...kita akan lanjutkan di cerita selanjutnya....satu hal yang bisa saya katakan adalah....
" Kita tidak perlu menjadi yang Nomer Satu, Karena Kita adalah Seseorang Yang Satu-Satunya di dunia ini."
Rabu, 30 Oktober 2013
Langganan:
Komentar (Atom)